Koperasi Jamu (KOJAI) Sukoharjo

Just another WordPress.com weblog

Bibit Waluyo sang ’Bali Ndeso Mbangun Deso’ (1)

’Ngenger’ di Demak jadi buruh derep

SLOGAN Bali Ndeso Mbangun Deso nampaknya bukan sekadar slogan bagi Bibit Waluyo saat berupaya memenangkan Pilgub Jateng 2008. Baginya ndesa (desa) memang akrab dengan kehidupannya saat masa kecil hingga remaja. Pensiunan Letjen TNI ini mau rekasa (hidup susah) menjadi buruh derep (panen padi) sekadar untuk mendapatkan uang saku dan ongkos membeli buku pelajaran.

Enam tahun mantan Pangdam IV/Diponegoro pernah ngenger di rumah kakaknya, Hj Thoyibatun —yang memiliki tujuh anak— menjadikan bungsu dari sembilan bersaudara ini akrab dengan keprihatinan. Puasa Senin-Kamis pun terbiasa dilakoninya.

Thole (Bibit) tinggal dengan kami dan sekolah di Demak sejak 1968. Karena nilai ujiannya kurang, dia tak diterima sekolah di Klaten. Makanya thole dikirim bapak ke Demak, agar bisa tetap melanjutkan sekolah,” kata nenek 67 tahun itu, saat ditemui di kediamannya di RT 04/I, Desa Mranak Wonosalam, Demak.

Melihat kehidupan rumah-tangga mbakyu-nya yang pas-pasan, penyuka bothok kutuk itu pun mencoba membantu dengan rajin belajar dan tak bertingkah neka-neka. Antara lain dengan menjadi buruh cangkul pada awal masa tanam, dan buruh potong padi atau derep saat panen.

Lik (paman) Bibit itu sejak kecil orangnya tekun dan pangerten. Setelah bayaran derep kira-kira Rp 200 saat itu, saya diajaknya jajan. Sisanya ditabung untuk beli buku pelajaran,” tutur H Iskandar, anak sulung Thoyibatun yang saat kecilnya pernah dimomong Bibit Waluyo.

Selama tinggal di Demak, pasangan Rustriningsih pada Pilgub Jateng 2008 tersebut tercatat sebagai siswa SMP Negeri 2 dan SMA Negeri 1 Demak. Kemudian diterima sebagai taruna Akabri pada 1968, dan dilantik sebagai Letda TNI AD pada 1971.

Tak “ninggal lanjaran”
Meski sudah menjadi tentara yang pangkatnya tinggi, Thoyibatun menyebutkan, Bibit tak pernah ninggal lanjaran (kacang lupa akan kulitnya). Dia selalu menjaga silaturahmi dan unggah-ungguh kepada siapa saja.

“Pak Bibit itu banyak yang suka karena ramah dan selalu basa krama pada pada orang tua, serta perhatian pada saudara-saudara hingga para sesepuh di desa,” tutur Kades Mranak, Hadi Riyanto.

Hal mengesankan Thoyibatun yang lebih dianggap sebagai ibu ketimbang kakak bagi Bibit tersebut, ketika penyuka tembang kenangan itu tunggang-langgang dan sembunyi setiap mendengar gemuruh suara pesawat terbang. Saking takutnya, bungsu pasangan Martodirjo-Sakiyem itu pernah terjatuh ke parit dan menangis pulang karena luka lecet di tangan dan kaki.

“Sapa ngira, anak penakut itu bisa jadi tentara dan memberangkatkan saya ke Mekah untuk ibadah haji? Bahkan menjadi calon Gubernur Jateng? Subhanallah,” ungkapnya sambil terkekeh.

Karenanya tak heran jika di masa pensiun, Bibit Waluyo yang sudah tiga kali berhaji itu ingin kembali dan membangun desa. “Dia pernah bilang, tak ingin melihat saudra-saudaranya di desa tetap hidup miskin tanpa ada perubahan nasib,” pungkas Thoyibatun. Sari Jati/bersambung-Ct

November 19, 2009 - Posted by | Info Pemerintah, UKM | , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: