Koperasi Jamu (KOJAI) Sukoharjo

Just another WordPress.com weblog

MODAL URUS IZIN JADI KENDALA PERAJIN JAMU

Kesulitan dalam modal mengurus izin produksi menjadi kendala bagi para perajin jamu di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sukoharjo, 27/10 (Antara/FINROLL News) – Kesulitan dalam modal mengurus izin produksi menjadi kendala bagi para perajin jamu di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

“Permasalahan tersebut menyebabkan kami sulit untuk mengembangkan usaha pembuatan jamu,” kata Ketua Koperasi Jamu Indonesia Sukoharjo, Suwarsi Moertedjo di Sukoharjo, Selasa.

Selain itu, kata dia, kesulitan tersebut mengakibatkan banyak produk dari para perajin belum terdaftar sehingga sering menjadi objek penyitaan pemerintah.

Dia mengatakan, kebanyakan produk jamu yang belum terdaftar adalah produk jamu rebusan.

“Hal tersebut menyebabkan para konsumen enggan menggunakan produk-produk para perajin jamu setempat,” kata dia.

Menurutnya, kurangnya pembinaan dan bantuan dari pemerintah menjadi salah satu penyebab kesulitan yang dialami para perajin.

Padahal, menurut Moertedjo, penggunaan bahan jamu alami tanpa campuran bahan kimia obat sudah menjadi kesepakatan 60 perajin yang tergabung dalam Koperasi Jamu Indonesia Sukoharjo.

“Selain itu, kami juga selalu melakukan pengawasan produksi anggota kami,” katanya.

Dia mengatakan, para perajin jamu di Nguter siap bila produknya diperiksa di laboratorium.

“Kami juga berjanji untuk segera melakukan pembinaan kepada anggotanya untuk tidak menjual jamu yang belum dilengkapi izin,” kata dia.

“Kami akan meminta bantuan perajin jamu setempat yang sudah memiliki modal besar untuk membantu dalam proses perizinan tersebut,” kata dia.

Di samping itu, Moertedjo menyayangkan tindakan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo yang sering melakukan inspeksi mendadak tanpa kelanjutan yang jelas.

“Kami berharap inspeksi tersebut berlanjut dengan adanya pembinaan kepada para perajin dan pedagang. Pembinaan justru datang dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) Jawa Tengah yang datang tiap tiga bulan sekali,” katanya.

Suwarsi Moertedjo juga menyangkal adanya kemasan kosong jamu bermerek di Pasar Nguter berasal dari perajin binaannya karena mereka belum mampu mencetak label dan kemasan sendiri, “Pemerintah harus dapat mengusut dan menindak tegas pengedar kemasan tersebut,”.

Sementara itu, Penyuluh Keamanan Pangan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Margono membantah bahwa pemerintah kurang melakukan pembinaan.

“Kami sering mengundang para perajin, tetapi mereka sering tidak hadir dalam acara pembinaan yang ami adakan,” kata Margono. (U

November 17, 2009 - Posted by | Tak Berkategori | , , , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: