Koperasi Jamu (KOJAI) Sukoharjo

Just another WordPress.com weblog

Kadin: Lindungi Industri Jamu dengan Regulasi Tepat

Rabu, 11 April 2007
JAKARTA– Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta Departemen Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) membuat peraturan yang mampu melindungi dan mengangkat industri jamu tradisional. Hal ini penting agar dapat bertahan dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Regulasi jamu jangan disamakan dengan obat-obatan modern yang banyak dikembangkan industri besar, karena industri jamu banyak dilakukan usaha kecil dan menengah (UKM),” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan, Rachmat Gobel, di Jakarta, Selasa (10/4).

Rachmat mengatakan perangkat aturan yang mampu mendorong tumbuh kembangnya industri itu penting, untuk melestarikan produk warisan budaya nasional di tengah pasar global. “Apalagi Kadin ingin menjadikan produk warisan budaya nasional sebagai ikon produk Indonesia di pasar internasional serta daya tarik pariwisata,” ujar Rachmat.

Dalam Roadmap (peta jalan) Industri Nasional 2010 dan Visi 2030 yang disusun Kadin, industri berbasis budaya dan tradisi, seperti jamu, kerajinan kulit, rotan, dan kayu, serta rokok kretek, batik dan tenun ikat, menjadi salah satu industri unggulan penggerak penciptaan lapangan kerja.

Saat ini industri jamu, menurut data Gabungan Produsen (GP) Jamu, menyerap sekitar tiga juta orang yang bekerja pada sekitar 1.247 industri jamu tradisional. Dari jumlah industri jamu tersebut hanya 129 perusahaan yang berskal besar, sedangkan sisanya 1.118 adalah usaha kecil dan menengah, bahkan skala rumah tangga.

Ketua Umum GP Jamu, Charles Saerang mengatakan selama ini produk jamu tradisional “dipaksa” mengikuti peraturan yang dirancang dengan standar obat-obat modern dari negara-negara Barat, mulai dari uji klinis, tata bahasa periklanan, serta ketentuan lain yang menyebabkan industri jamu tidak berkembang optimal terutama di pasar dalam negeri. “Jamu tidak mungkin di uji dengan sistem dan standar (negara-negara) Barat, karena ini warisan budaya yang seharusnya diberi pembedaan, namun tetap dengan standar kualitas yang baik,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, pemerintah harus secara maksimal melakukan pembelajaran dan pelatihan kepada industri kecil dan menengah, mengenai cara produksi jamu yang sehat, agar jamu memenuhi standar obat herbal. Apalagi saat ini sedang disusun standar jamu di tingkat ASEAN.

Lebih jauh ia mengatakan GP Jamu yang akan melakukan Munas ke-5 pada 12-13 April 2007 mengharapkan dukungan pemerintah yang terintegrasi terhadap industri jamu tradisional, mengingat industri ini banyak digeluti UKM dan mampu menyerap tenaga kerja yang besar yang diproyeksikan mampu mempekerjakan sekitar 5-6 juta orang pada 2010. “Kami mengharapkan dukungan pemerintah yang terpadu mulai dari Depkes, BPOM, Deperin, Deperdag, dan Kantor Kementerian UKM dan Koperasi untuk mendorong tumbuhnya industri jamu,” ujarnya.

(ant/fir, pada infoanda )

Iklan

November 17, 2009 - Posted by | Berita Jamu Indonesia | , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: