Koperasi Jamu (KOJAI) Sukoharjo

Just another WordPress.com weblog

Industri Kecil Jamu

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula…Jumat, 13 Juni 2008 | 11:20 WIB

Oleh: Sri Rejeki

Sukmawati (34) meraih tubuh Risya (3) yang tengah mengantuk lalu menggendongnya. Sejurus kemudian, anak bungsunya itu terlelap. Siang itu, suasana kios jamunya di Pasar Nguter, Sukoharjo, tidak ramai sehingga ia bisa leluasa mengurus Risya.

“Sudah dua bulan ini sejak menjelang harga BBM naik, penjualan jamu lesu. Namun, pengiriman ke luar Jawa masih stabil,” jelasnya, Kamis (12/6).

Penurunan penjualan lebih dari 50 persen. “Daya beli masyarakat menurun. Mereka mengutamakan uangnya untuk beli makan. Beli jamu jadi nomor sekian,” kata Sukmawati yang memproduksi 30 macam jamu dengan label “Bintang Mas”.

Meski harga BBM naik, Sukmawati tidak menaikkan harga jual karena ia baru saja menaikkan harga. “Kertas, plastik pembungkus, dan sebagian bahan baku naik terus harganya. Terpaksa harga jamu saya naikkan. Kalau sekarang dinaikkan lagi, takut tambah lesu penjualan,” jelas Sukmawati.

Kondisi ini terjadi merata

Ketua Koperasi Jamu Indonesia (Kojai) Sukoharjo Suwarsi Moertedjo mengungkapkan, kelesuan mulai terasa sejak setengah tahun lalu. “Turunnya 75-85 persen,” katanya.

Masih dipusingkan dengan lesunya penjualan, kini ditambah lagi dengan ditemukannya kasus jamu yang dicampur bahan kimia obat keras. Badan Pengawas Obat dan Makanan beberapa hari lalu mengumumkan 54 merek obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras. Sebagian besar berasal dari Cilacap.

Sukmawati bercerita, saat kasus serupa terjadi beberapa tahun lalu, produk jamu lain yang benar-benar murni berbahan tradisional terkena imbas negatif. “Kasus ini merusak citra jamu. Pelanggan saya yang biasanya minta kiriman sebulan sekali, jadi 2-3 bulan sekali. Volumenya juga berkurang 20 persen. Itu terus berlangsung sampai sekarang karena orang jadi takut minum jamu,” jelasnya.

Bahkan, tambah Sukmawati, pesanan jamu dari Brunei Darussalam lewat seorang agen di Samarinda, Kalimantan Timur, langsung berhenti total sejak terungkapnya kandungan bahan kimia obat keras dalam jamu.

Kondisi ini seperti bunyi pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. “Tahun ini memang lebih menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Saya sendiri melakukan inovasi membuat jamu lain yang belum ada untuk mempertahankan turn over,” kata pemilik usaha Jamu Leo Effendi Julian.

Ditambahkannya, jamu dari Cilacap atau cilacapan memang banyak dicari orang. Jamu-jamu yang murni tradisional sering menjadi pilihan kedua. “Mungkin karena cilacapan dinilai dengan cepat menyembuhkan sakit. Padahal, jamu memang tidak menyembuhkan seketika seperti obat, melainkan harus diminum rutin agar khasiatnya dirasakan,” sebutnya.

Seorang penjual jamu, Marikem, mengakui, menjual cilacapan yang digemari konsumen memang menggiurkan karena meningkatkan penjualan. “Dulu saya pernah menjual jamu cilacapan, sekarang tidak lagi karensa pemasoknya sudah tidak pernah mengirim. Kalau masih mengirim, mungkin saya masih menjual. Namanya juga pedagang. Maunya jualan yang laku,” kata Marikem terus terang.

Di sentra industri kecil jamu di Nguter diberlakukan aturan ketat, terutama bagi anggota Kojai. Ada surat perjanjian yang ditandatangani setiap anggota untuk tidak mencampur jamu dengan bahan berbahaya. Hampir seluruh perajin jamu di Nguter bergabung dengan Kojai karena koperasi ini menawarkan pemberian rekomendasi bagi anggotanya yang ingin mengurus perizinan produk.

“Bila melanggar dan berurusan dengan polisi, kami tidak akan membantu,” jelas Suwarsi Moertedjo.

Setiap calon anggota baru diteliti betul latar belakangnya agar Kojai tidak kecolongan. “Kalau tempat produksinya mengontrak dan orang itu berasal dari Cilacap atau Banyumas, saya tidak menerimanya sebagai anggota,” katanya.

Dengan begitu, sepanjang pengamatannya tidak ada perajin jamu di Nguter yang berani mencampur produknya dengan bahan kimia. Kompas

November 17, 2009 - Posted by | Berita Jamu Indonesia, Tentang Kojai Sukoharjo | , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: