Koperasi Jamu (KOJAI) Sukoharjo

Just another WordPress.com weblog

INDUSTRI JAMU TRADISIONAL

PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN

PROFIL USAHA

Kabupaten Sukoharjo khususnya Kecamatan Nguter merupakan sentra penjualan jamu tradisional yang cukup dikenal di Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya pedagang kios jamu tradisional yang terletak di Pasar Nguter Sukoharjo. Dari 250 pedagang yang ada, 33 diantaranya khusus berjualan jamu tradisional (Solopos, 2005). Pembelinya tidak hanya datang dari Sukoharjo dan sekitarnya, tetapi banyak juga yang berasal dari luar Jawa. Pelanggan cukup memesan melalui surat atau telepon, kemudian barang pesanan segera dikirim melalui pos atau perusahaan ekspedisi.

Sebagian pedagang jamu tradisional yang ada di Pasar Nguter ada yang memproduksi jamu sendiri dan sebagian lainnya hanya menjual jamu saja tanpa memproduksinya. Belum ada data secara pasti dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Sukoharjo maupun Badan Pusat Statistik (BPS) Sukoharjo mengenai jumlah pengusaha jamu tradisional di Kabupaten Sukoharjo. Data dari KOJAI menyebutkan bahwa anggotanya berjumlah 60 orang yang terdiri dari pengusaha jamu dan penjual jamu. Di pihak lain, ada juga beberapa pengusaha atau penjual jamu yang belum menjadi anggota KOJAI. Tabel 2.1. memperlihatkan banyaknya pekerja menurut jenis sektor dan jenis kelamin di Kabupaten Sukoharjo.

Hasil wawancara dengan pengusaha jamu di Kecamatan Nguter menunjukkan bahwa terdapat 8 pengusaha jamu di Kecamatan Nguter yang melakukan proses penggilingan. Untuk Kecamatan Sukoharjo, sebanyak 7 pengusaha melakukan proses penggilingan jamu. Sedangkan pengusaha yang lain tidak melakukan proses penggilingan melainkan hanya memasukan serbuk saja ke dalam kemasan dan mengemasnya, ataupun hanya menjual saja (pedagang). Pada umumnya, skala usaha yang dilakukan pengusaha jamu tradisional di Kabupaten Sukoharjo masih kecil, hanya satu – dua pengusaha saja yang melakukan proses produksi jamu dengan skala besar. Teknologi yang digunakan pun masih relatif sederhana/tradisional, yaitu hanya menggunakan mesin penggiling dan mesin penyaring.

Jenis serbuk jamu yang dihasilkan hampir sama antara satu pengusaha dengan pengusaha lainnya. Yang membedakan adalah komposisi, variasi, dan mereknya. Rata-rata seorang pengusaha menjual 10 – 30 jenis jamu, walaupun ada juga yang menjual 75 jenis jamu. Pengusaha jamu tersebut tidak menanam tanaman bahan jamu sendiri, tetapi mendapatkannya dari pemasok bahan baku dalam bentuk kering (Dapat dilihat lebih jelas pada sub bab 4.3.) Tenaga kerja yang dipekerjakan pada usaha ini berkisar antara 7 – 30 orang, tergantung dari besarnya usaha yang dilakukan.

Tabel 2.1.
Banyaknya Pekerja Menurut Jenis Sektor dan Jenis Kelamin
di Kabupaten Sukoharjo Akhir Tahun 2003
Jenis Sektor
Pekerja Laki-laki
Pekerja Perempuan
Jumlah
Industri Kecil 397 156 553
Bengkel 275 74 349
Pertokoan 277 418 695
Percetakan 678 327 1.005
Logam 22 22
Makanan 672 1.762 2.434
Pompa Bensin 177 2 179
Bioskop 13 5 18
Meubel 3.418 1.592 5.010
Apotek 22 34 56
Perkayuan 364 38 402
Bahan Bangunan 164 18 182
Batik 173 118 291
Rokok 118 749 867
Karoseri 38 7 45
Jasa-jasa 2.564 2.452 5.016
Produksi Obat 1.140 947 2.087
Tekstil 7.645 18.399 26.044
Jumlah 18.157 27.098 45.255

Selain menjual jamu hasil produksi sendiri, beberapa pengusaha jamu tradisional di Kabupaten Sukoharjo menjual jamu yang bukan hasil produksinya, melainkan dari produsen jamu besar seperti Jamu Jago dan Air Mancur. Jamu-jamu tersebut didapat dari tenaga penjual (sales) yang secara rutin memasok jamu tersebut, hal ini dapat menambah variasi jamu yang dijual oleh pengusaha jamu di Kabupaten Sukoharjo.

Jamu tradisional merupakan jenis produk yang memerlukan izin khusus yang dikeluarkan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) yang berupa izin edar (POM-TR). Izin ini dikeluarkan untuk menjamin jamu tersebut aman dikonsumsi dan bebas dari kadar air yang berlebih, kandungan lempeng logam, kuman ataupun mikroba lainnya. Prosesnya adalah berupa pengujian laboratorium terhadap bahan baku simplisia dan produk serbuk jamu. Bila hasilnya sudah sesuai dengan standar kesehatan menurut BBPOM, maka izin edar akan dikeluarkan. Izin tersebut juga sebaiknya selalu diperpanjang setiap 3 bulan sekali. Tetapi proses pengujian laboratorium ini belum banyak dilakukan oleh pengusaha jamu di Kabupaten Sukoharjo karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan, yaitu sekitar Rp 2.250.000 per item produk.

Pengusaha jamu di Kabupaten Sukoharjo sudah melakukan pencatatan pembukuan sederhana seperti buku keluar masuk barang, buku omzet dan buku penggajian karyawan. Pada umumnya pengusaha jamu tradisional melakukan usaha ini karena melanjutkan usaha keluarga, pertimbangan harga jualnya yang cukup baik, dan prospek usaha yang cukup menjanjikan.

Sebagian besar pengusaha jamu tradisional di Kabupaten Sukoharjo merupakan anggota Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI). Manfaat yang didapat dengan menjadi anggota KOJAI adalah mendapatkan bimbingan mengenai industri jamu tradisional, mendapatkan solusi bila ada permasalahan, dapat mengikuti seminar lokal maupun nasional, dan dapat mengikuti pameran-pameran. Pada umumnya para pengusaha yang menjadi anggota KOJAI sudah pernah mendapatkan pelatihan atau seminar mengenai teknologi produksi/pengolahan jamu dan teknik pemasaran/penjualan yang diberikan oleh produsen jamu besar.

Sumber: Klik disini

November 17, 2009 - Posted by | Berita Jamu Indonesia, Tentang Kojai Sukoharjo | , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: